Blog

EMPATI: Siswa SD Islam Sabilillah Malang

EMPATI: Siswa SD Islam Sabilillah Malang

SD Islam Sabilillah Malang menggelar doa bersama untuk korban AirAsia QZ8501, Kamis (8/1/14) lalu. Kegiatan ini diikuti sedikitnya 700 siswa dari kelas 1-VI. Usai berdoa, siswa berkunjung ke rumah salah satu korban yakni Jasmine Rose Ann Santiago. Sebanyak 15 siswa perwakilan siswa kelas IV dan V melakukan takziah ke rumah duka di Kawasan Purwodadi. Sebagai bentuk empati, siswa juga membawa uang amal yang biasanya dihimpun setiap Jum’at untuk diberikan kepada keluarga korban.
”Saya terharu mendengar cerita neneknya Mbak Jasmine, apalagi lihat adik angkatnya yang masih kecil,” ujar Siswa Kelas V Ardilla Ayu Syahmina.
Ardilla mengaku sangat antusias ketika sekolah memilihnya sebagai perwakilan untuk berkunjung ke rumah duka. Sebab, selama ini ia selalu mengikuti berita tentang musibah tersebut dari media massa.
”Saya senang sekali bisa ikut mewakili teman-teman yang lain, tapi tentunya saya merasakan sedih seperti yang dirasakan keluarga Mbak Jasmine,” kata dia.
Rasa empati yang diungkapkan Ardilla inilah yang menjadi target sekolah dengan mengajak siswanya takziah ke rumah duka. Menurut Kepala SD Islam Sabilillah Lukman S.Pd M.Pd, kepedulian sosial penting dibangun sejak usia dini. Baginya justru pembelajaran langsung seperti itu jauh lebih penting daripada yang diajarkan di dalam kelas.
”Kami ingin membiasakan anak berempati dengan lingkungannya, mereka peduli dan tidak cuek kalau ada orang lain terkena musibah,” bebernya.
Cinta sesama adalah salah satu karakter yang ditanamkan di sekolah ini. Menurut Lukman, di awal semester, sekolah memrogramkan masa orientasi karakter. Ada delapan karakter cinta yang ditanamkan sekolah kepada siswa dan diperkuat lagi di awal masuk sekolah. Sehingga menurutnya sangat tepat jika siswa diajak langsung melihat bagaimana kondisi keluarga yang ditinggalkan dari musibah tersebut.
”Salah satu orientasi karakter yang sedang kami jalankan adalah belajar menghargai pendapat orang lain di forum, kalau anak-anak tampil di depan sudah biasa, tapi yang belum adalah bagaimana mereka bisa diam dan sabar mendengarkan orang lain bicara,’ pungkasnya.

No Comments Yet


Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE
CLOSE
%d blogger menyukai ini: